Aku Ingin Bijaksana, Tapi Tak Bisa

SASTRA, SENI, BUDAYA 01 Jul 2026 19:39 6 min read 3 views By Petrus Bono Kris
Aku Ingin Bijaksana, Tapi Tak Bisa
Antologi puisi Aku Ingin Bijaksana, Tapi Tak Bisa hadir dari pergulatan batin semacam itu—pergulatan antara keinginan untuk memahami, memaafkan, dan menerima, dengan kenyataan bahwa kita sering kali terjebak dalam kekacauan emosi dan ketidaksempurnaan. Setiap puisi di dalam antologi ini adalah cerminan dari pencarian, kegagalan, dan harapan untuk menemukan arti kebijaksanaan di tengah kerumitan hidup.

1. Jejak yang Terhapus

Langkah demi langkah kulewati jalan ini,
menghitung debu dan kerikil di sepanjang batas,
tapi jejakku hilang, tersapu angin,
lenyap sebelum sempat kubaca tanda-tandanya.

Seperti pasir yang tersapu ombak,
yang kutinggalkan hanya kehampaan,
tak ada bayang yang tersisa
untuk kubaca kembali dalam sunyi.

Aku menelusuri setiap inchi perjalanan,
memungut sisa-sisa harapan yang tertinggal,
namun bayangan kebijaksanaan itu
seakan semakin jauh,
berlari lebih cepat dari langkahku.

Aku bertanya, pada siapa saja yang lewat,
di mana ujung dari pencarian ini?
Apakah ada cara untuk mengukir jejak yang nyata
di jalan yang terus bergulir,
di dunia yang selalu berubah?

Kadang, angin membisikkan jawabnya,
namun suaranya samar,
terbenam dalam debu dan keraguan
yang menyelimuti setiap pagi dan malamku.

Aku ingin mengerti arti dari semua ini,
namun semua jawaban terasa kosong,
seperti perahu yang terombang di laut tenang
tanpa angin yang membimbing layar.

Di setiap simpang jalan,
aku melihat bayang-bayangku sendiri
berdiri dalam diam,
mengawasi aku yang terus berjalan,
tapi tak pernah benar-benar tiba.

Apakah mungkin ini takdirku,
melangkah tanpa jejak,
mencari tanpa pernah menemukan?
Ataukah kebijaksanaan itu sendiri
adalah menerima kehilangan tanpa amarah?

Malam semakin pekat saat aku bertanya,
menatap langit yang kelam tanpa bintang.
Dan aku pun melanjutkan langkah,
meninggalkan jejak yang selalu terhapus,
di jalan yang entah menuju ke mana.

 

 

 

 

 

2. Bayang-Bayang Harapan

Di relung terdalam jiwaku, ada secercah sinar,
seperti lilin kecil yang berkedip di tengah gelap,
berpendar seakan memberi arah,
namun selalu terlalu jauh untuk kugenggam.

Aku mencoba meniti jalannya,
mengikuti jejak samar cahaya itu,
seperti pelaut yang terpesona
pada bintang yang tak pernah terjangkau.

Setiap kali mendekat, ia menjauh,
berputar dalam kabut yang tebal,
menciptakan ilusi seolah aku akan sampai
pada harapan yang meneduhkan.

Namun begitu jarak terpangkas,
cahaya itu mengecil lagi,
seperti embun di pagi hari
yang menguap dalam hangatnya sinar matahari.

Aku bertanya pada diriku sendiri,
berapa banyak jalan yang harus kutempuh
sebelum sampai pada ketenangan sejati?
Berapa kali harus kuhadapi kekosongan
yang menyelimuti hatiku?

Bayang-bayang itu seperti pelarian,
menjanjikan kedamaian di ujung sana
namun tak pernah benar-benar hadir,
membuatku lelah namun tak bisa berhenti.

Mungkin inilah yang disebut hidup—
sebuah kejar-kejaran yang tak ada habisnya,
antara aku dan bayangan harapan
yang selalu melesat lebih cepat.

Aku ingin menyerah, berhenti berjalan,
tapi lilin kecil itu masih menyala,
seakan memanggil dari kejauhan
untuk terus mencoba, terus percaya.

Dalam keputusasaan ini,
aku tak tahu mana yang lebih nyata:
cahaya kecil yang membawaku pergi,
atau kegelapan yang menahanku di sini.

Dan aku pun terus melangkah,
menggenggam harapan dalam kabut
yang perlahan menutupi mataku,
merasa bahwa aku hidup
hanya untuk mengejar bayang-bayang.

 

3. Keteduhan yang Tak Pernah Datang

Di bawah terik matahari, aku berjalan perlahan,
mencari bayang yang bisa meneduhkan,
tempat di mana pikiranku bisa diam
dan jiwaku tak perlu lagi berlari.

Aku pernah bayangkan ada pohon besar
dengan dedaunan rimbun yang menaungi,
memberi keteduhan yang abadi,
mendinginkan hati yang panas oleh kegelisahan.

Namun pohon yang kutemui tak berdaun,
rantingnya kering, kosong tak berbentuk,
hanya batang keras tanpa jiwa,
tak mampu menawariku istirahat.

Aku melangkah lagi, menyusuri tanah yang gersang,
mencari keteduhan di setiap persimpangan,
namun setiap kali kutemukan tempat teduh,
ia hanya bayang tipis yang cepat menghilang.

Berulang kali kuminta pada angin
untuk membisikkan jawaban,
berulang kali kucari dalam sunyi
arah untuk menemukan kedamaian.

Namun dunia ini seperti api yang berkobar,
tanpa ruang sejuk, tanpa batas yang teduh,
menyala di setiap sudut langkah
dan membakar harapanku akan kedamaian.

Mungkin keteduhan itu hanyalah ilusi,
sebuah janji yang kubuat sendiri,
untuk menutupi kekosongan
yang selalu mengikutiku.

Aku mencoba berhenti sejenak,
menatap tanah yang berdebu di bawah kaki,
dan bertanya pada diriku,
apakah ada akhir dari pencarian ini?

Namun ketenangan tak juga datang,
yang ada hanyalah sunyi yang semakin dalam,
menghantarku pada kesadaran pahit
bahwa mungkin, aku memang tak akan pernah tenang.

Dan di tengah perjalanan tanpa ujung ini,
aku kembali melangkah,
mencari keteduhan yang tak pernah datang,
di bawah terik matahari yang terus menyala.

 

4. Cermin yang Pecah

Aku berdiri di hadapan cermin retak,
melihat diriku terpantul dalam serpihan,
setiap potongan menunjukkan wajah yang lain,
dengan tatapan penuh keraguan.

Aku mencari bayangan yang bijaksana,
sosok diri yang kukira tersembunyi
di balik wajah-wajah yang terserak,
namun yang kutemukan hanya keraguan.

Setiap retakan adalah kegagalan,
setiap serpihan adalah luka lama
yang mencabik-cabik citra diriku,
membuatku tak bisa melihat utuh.

Aku ingin menyatukan semua kepingan,
tapi cermin itu hanya pecah semakin dalam,
seperti hatiku yang tak bisa lagi disembuhkan
oleh janji-janji kosong yang kutemui.

Sosok yang kukenali hanya bayangan,
tercermin dalam kelamnya ketidakpastian,
dan aku bertanya pada diri sendiri,
apakah aku akan terus mencari,
atau menyerah pada pecahan ini?

Namun meskipun cermin itu tak bisa mengungkapkan
wajah yang penuh kebijaksanaan,
aku masih berharap ada keajaiban,
untuk menyatukan kembali diri yang hilang.

5. Sebuah Perjalanan Tanpa Tujuan

Langkah demi langkah aku menapaki jalan,
tanpa peta, tanpa petunjuk yang jelas,
setiap persimpangan yang kutemui
hanyalah sebuah pilihan tanpa arti.

Aku bertanya pada langit,
pada awan yang berlarian tanpa tujuan,
apakah aku juga sama seperti mereka?
Hanya bergerak, tanpa arah yang pasti.

Dalam pencarian ini,
aku merasa seperti gelombang laut
yang datang dan pergi tanpa henti,
tanpa tujuan, hanya terus berputar.

Kadang aku berharap ada jawaban,
sebuah tanda yang memandu langkahku,
namun yang kutemui hanya kebingungan,
seperti angin yang tak punya bentuk.

Aku mencari kebijaksanaan di setiap langkah,
tapi selalu saja aku terjatuh
ke dalam lubang yang lebih dalam,
mendapati diriku terperangkap dalam pencarian.

Apakah aku akan terus berjalan
tanpa pernah benar-benar sampai?
Atau akankah aku berhenti di suatu tempat,
terima kenyataan bahwa kebijaksanaan itu
hanya ilusi yang tak dapat digapai?

6. Hati yang Tersesat

Jiwaku berkelana, menyusuri lorong waktu,
mencari jalan pulang yang telah lama hilang,
namun setiap langkah membawa aku
ke tempat yang semakin asing, semakin gelap.

Aku bertanya pada angin yang berlalu,
di mana aku bisa menemukan hati yang tenang,
tapi angin itu hanya berbisik,
tak memberikan jawaban yang nyata.

Aku lelah mencari arah,
lelah mengikuti petunjuk yang salah,
seakan aku berputar-putar di tempat yang sama,
dan setiap jalan hanya membawa ke kebingungan.

Hati ini mulai rapuh,
penuh dengan luka yang tak terobati,
seperti kaca yang pecah dan tak bisa disatukan,
meski aku mencoba merangkainya kembali.

Aku ingin menemukan kedamaian,
tapi sepertinya aku hanya berlari dari diriku sendiri,
dalam keputusasaan yang semakin dalam,
mencari kebijaksanaan yang tak kunjung datang.

Apakah aku akan terus tersesat,
atau akankah aku menemukan jalan pulang?
Yang kutahu hanya satu,
hatiku tak pernah benar-benar tenang.

 

 

7. Tanpa Arah

Aku berjalan tanpa kompas,
tanpa tujuan, tanpa peta,
langkahku hanya jejak yang hilang,
terhapus sebelum sempat aku mengerti.

Betapa bodohnya aku,
mengejar angin yang tak pernah bisa kugenggam,
berharap pada sesuatu yang tak nyata,
mencari kedamaian dalam kebingunganku.

Setiap keputusan yang kuambil
seperti menikam diriku sendiri,
kebijaksanaan yang kucari
berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan.

Aku tidak tahu lagi harus kemana,
ke mana langkahku akan membawaku?
Mungkin ke jurang, mungkin ke tepi kehampaan,
karena aku tak tahu jalan yang benar.

Aku tak pantas meminta petunjuk,
karena aku tahu, aku tak akan mengerti,
jika dunia ini berbicara padaku,
aku hanya bisa mendengar kebingunganku sendiri.

Bagaimana bisa aku berharap bijaksana,
padahal aku hanya tersesat dalam pikiranku,
terperangkap dalam lingkaran yang tak berujung,
di mana setiap langkah membawa kehancuran.

Namun aku terus berjalan,
meski aku tahu, aku tak akan pernah sampai,
karena dalam keputusasaanku,
aku tak bisa berhenti mencari sesuatu yang tak ada.

 

 

Jika Anda ingin mendapatkan seluruh puisi  ana dapat memesan eAntologi-nya ke 085799951969