PUISI UNTUK SAHABAT LAMA
BUNDEL PUISI UNTUK SAHABAT LAMA
OLEH: PETRUS BONO KRIS
PINTU YANG MENYIMPAN WAKTU
Kuketuk sebuah pintu
setelah waktu berjalan begitu jauh.
Di baliknya berdiri seorang sahabat
yang wajahnya masih menyimpan
sepotong masa kecilku.
Ia terdiam,
seperti sedang mencari kata
di antara tahun-tahun
yang telah lama berlalu.
Aku pun duduk
di atas balai bambu,
sementara kenangan
perlahan membuka jendelanya.
Ternyata waktu
tak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi
di balik pintu
dan menunggu
seseorang datang mengetuk.
BARISAN DI BAWAH BENDERA
Dulu kita berdiri
dalam barisan yang sama,
seragam sederhana,
sepatu yang mungkin tak sempurna,
tetapi mimpi-mimpi
begitu tinggi.
Setiap Senin
bendera naik perlahan,
dan kita belajar
tentang negeri,
tentang disiplin,
tentang menjadi manusia.
Kini seragam itu telah lama tanggal.
Kita telah memilih jalan masing-masing,
menjadi dewasa
dengan cerita yang berbeda.
Namun setiap kali mengenang sekolah,
aku menemukan kita kembali—
dua anak kecil
yang berdiri berdampingan
di bawah langit yang sama.
RUMAH KECIL, HATI YANG BESAR
Di rumah kecil itu
lampu minyak menyala redup.
Seorang anak membaca buku,
ayahnya duduk dengan rokok,
ibunya tertawa
sambil memilin sabut menjadi tali.
Tak ada kemewahan
yang bisa diceritakan.
Namun malam-malam di sana
selalu terasa hangat.
Kini aku mengerti,
rumah bukan sekadar
dinding dan atap.
Rumah adalah
tempat tawa tidak perlu alasan,
tempat kesederhanaan
tidak membuat seseorang merasa rendah,
tempat kasih
diam-diam tumbuh
di antara kesibukan.
Rumah itu kecil.
Tetapi kenangannya
terlalu luas
untuk dilupakan.
SAHABAT YANG TIDAK PERGI
Kita pernah berpisah
tanpa tahu
berapa lama jarak akan tinggal.
Tahun-tahun berlalu.
Kota berubah,
jalan berubah,
kita pun berubah.
Tetapi ada sesuatu
yang tidak ikut pergi:
sebuah persahabatan
yang diam-diam
menunggu di dalam ingatan.
Mungkin aku bukan sahabat
yang paling setia.
Mungkin terlalu lama
aku membiarkan jarak
menjadi alasan.
Tetapi ketika akhirnya
aku kembali,
kau masih membuka pintu
dengan senyum yang sama.
Seakan-akan persahabatan
tidak pernah mengenal
kata terlambat.
TERLAMBAT MENGETUK
Aku berkata,
“Aku datang karena kenangan.”
Kau tersenyum,
seolah tahu
ada sesuatu yang kusembunyikan.
Barangkali bukan kenangan
yang membawaku kemari.
Barangkali
rasa bersalah
karena terlalu lama
tidak datang.
Padahal jarak
hanya tiga puluh kilometer.
Yang membuat kita jauh
ternyata bukan jalan,
bukan kota,
bukan waktu.
Melainkan aku
yang terlalu lama
menunda langkah.
Hari ini aku tahu:
jangan menunggu bertahun-tahun
untuk mengetuk pintu
seorang sahabat.
Sebab suatu hari
pintu itu mungkin masih ada,
tetapi waktu
belum tentu
memberi kita kesempatan
untuk masuk.
Related Articles